Menelisik Peran Keuangan Mikro Islam dalam Pengentasan Kemiskinan

Menelisik Peran Keuangan Mikro Islam dalam Pengentasan Kemiskinan

Oleh Askar Muhammad

Mahasiswa S1 Ilmu Ekonomi Islam Universitas Indonesia

 

Perbankan adalah salah satu lembaga intermediasi keuangan yang memiliki fungsi menyalurkan dana dari pihak surplus ke pihak defisit. Namun, perbankan tidak memiliki peran yang mampu mencakup seluruh pihak defisit. Hal itu terlihat dari data Kementerian Koperasi dan UMKM (2013) yang menyebutkan bahwa 99,9% dari seluruh usaha yang ada di Indonesia memiliki karakteristik Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang juga merupakan masyarakat miskin. Mayoritas dari mereka adalah unbankable atau tidak layak mendapatkan pinjaman dana dari bank (Machmud & Huda, 2011). Kondisi tersebut mendorong adanya lembaga intermediasi keuangan yang mampu menjangkau kalangan unbankable dan mengentaskan kemiskinan, yaitu melalui lembaga keuangan mikro (LKM) islam.

LKM islam dinilai lebih tepat dalam pengentasan kemiskinan dibandingkan dengan LKM konvensional karena LKM konvensional terbukti tidak ampuh mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup orang miskin serta terlalu eksploitatif dan tidak etis dalam operasionalnya. Ketidaketisan dan sifat eksploitatif itu terlihat dari tingginya bunga yang dikenakan pada pembiayaan mikro konvensional. Padahal, orang-orang miskin tidak memiliki surplus produksi yang cukup untuk mengakumulasikan modal dan membayar utang dan bunga tinggi yang ditawarkan oleh lembanga keuangan mikro konvensional. Hal itu disebabkan oleh rendahnya skill, akses terhadap aset produktif, malnutrisi, dan tingkat literasi yang dimiliki orang-orang miskin (Ahmad, 2010). Permintaan terhadap LKM Islam juga lebih besar karena mayoritas masyarakat miskin tinggal di negara mayoritas muslim, khususnya Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Mesir, dan Nigeria (CGAP, 2008). Memenuhi kebutuhan keuangan yang sesuai dengan kepercayaan muslim juga merupakan pendorong naiknya permintaan tersebut. BPS (2010) juga telah menyebutkan bahwa 87,18% dari penduduk Indonesia adalah muslim sehingga LKM islam lebih cocok diterapkan di Indonesia.

Ahmad (2010) menemukan bahwa LKM islam juga lebih diminati karena mayoritas klien (91%) mengadu bahwa jumlah kredit yang diterima tidak cukup untuk mencari kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan. Kemudian, 86% klien merasa pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan tidak mereka peroleh dan 85% responden juga mengeluhkan kredit yang telat disalurkan namun waktu pelunasan begitu cepat. Mereka mengatakan bahwa banyak kredit sudah ditagih dan harus dibayar padahal uang tersebut belum sempat diinvestasikan dan membuahkan hasil. Oleh karena itu, pelatihan harus diadakan, peningkatan motivasi etis dan moral juga harus diterapkan

Beberapa studi empiris juga menemukan bahwa LKM Islam juga ampuh mengentaskan kemiskinan. BMT sebagai salah model LKM Islam yang diterapkan di Indonesia juga telah terbukti di Bantul secara empiris meningkatkan pendapatan anggota-anggotanya (Sriyana & Raya, 2013). Sari (2013) juga menemukan bahwa BMT di Padang dapat meningkatkan pendapatan, kualitas hidup, dan mutu sumber daya manusia keluarga miskin. Melakukan studi kasus pada BMT Sidogiri, Adnan dan Ajija (2015) menemukan bahwa penerima pembiayaan mikro BMT mengalami peningkatan pendapatan. Mereka juga menemukan bahwa produk Ba’i Bithaman ‘Ajil dan Mudharabah dapat memberdayakan masyarakat miskin dalam kegiatan bisnis produktif sehingga dapat mengeluarkan masyarakat dari garis kemiskinan. Program keuangan mikro islam telah menyediakan peluang pada mereka untuk melakukan kegiatan ekonomi secara lebih teratur sehingga meningkatkan kualitas hidup dan mengembangkan nilai etika dan moral mereka. Hal-hal tersebut hanya dapat terealisasi jika program tersebut menyediakan pendidikan non-formal, pelatihan, dan bantuan keuangan bagi para partisipannya. Melalui program ini juga masyarakat menjadi lebih sadar akan kondisi kesehatan, sanitasi, dan air bersih (Ahmad, 2010).

LKM Islam terbukti mampu berperan dalam pengentasan kemiskinan yang selama ini gagal ditangai oleh sektor perbankan. Hal itu terlihat dari beberapa studi empiris yang telah dijabarkan sebelumnya. Indonesia sebagai negara mayoritas muslim juga memiliki permintaan lebih banyak terhadap LKM Islam dibandingkan dengan LKM konvensional sehingga LKM Islam lebih tepat diterapkan di Indonesia.

REFERENSI

Adnan, M. A., & Ajija, S. R. (2015). The effectiveness of Baitul Maal wat Tamwil in reducing poverty: The case of Indonesian Islamic Microfinance Institution. Humanomics, Vol. 31 Iss 2 , 160 – 182.

Ahmad, M. M. (2010). Impact of Microfinance of IBBL on the Rural Poor’s Livelihood in Bangladesh : an Empirical Study. International Journal of Islamic and Middle Eastern FInance and Management, Vol.3 Iss 2, 168-190.

Karim, N., Tarazi, M., & Reille, X. (t.thn.). Islamic Microfinance : An Emerging Market Niche. CGAP Focus Note No. 49, 2008.

Machmud, Z., & Huda, A. (2011). SMESs’ Access to Finance : an Indonesian Case Study. ERIA Research Project Report 2010-14, 261-290.

Sari, Z. (2013). Analisis Kinerja Program Penanggulangan Kemiskinan Melalui KJKS BMT : Studi Kasus Kota Padang. Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang.

Sriyana, J., & Raya, F. (2013). Peran BMT dalam Mengatasi Kemiskinan di Kabupaten Bantul. Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol. 7, No. 1, 29-50.

No Comments

Post a comment