Sama seperti fintech konvensional, sasaran utama dari bisnis fintech Syariah adalah para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ini dikarenakan inklusi UMKM terhadap akses pembiayaan masih sangat rendah.

Merujuk pada Profil Bisnis UMKM yang dibuat BI, jumlah UMKM yang tercatat hingga 2014 sebanyak 56,54 juta unit. Namun, baru 30%-nya saja yang mendapat akses pembiayaan, baik lewat perbankan maupun lembaga mikro keuangan seperti koperasi. Artinya, jika merujuk data tersebut, 70% atau kurang lebih sebanyak 39,5 juta unit UMKM belum bisa mendapat akses pembiayaan untuk modal mereka.

Penelitian Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI bertajuk “Indonesia Sharia Economic Outlook 2018” bahkan memperlihatkan kondisi yang lebih memprihatinkan. Disebutkan dalam kajian tersebut, 79% dari UMKM di Indonesia pada saat ini belum terakses pembiayaan.

Pembiayaan yang diperoleh UMKM pun rata-rata masih didapatkan lewat perbankan maupun komersial. Hanya 4% pembiayaan UMKM yang memanfaatkan jasa keuangan mikro. Masih mengutip penelitian FEB UI, jumlah lembaga keuangan mikro Syariah menurut perkiraan Badan Perencanaan Pembangunan Nasiona (Bappenas) tak kurang dari 4.500 unit. Hanya saja yang terdaftar hingga September 2016 barulah 454 unit.

Selain ancaman terhadap sektor bisnis lain, fintech syariah sejatinya memang usaha yang penuh risiko tingkat tinggi. Sama seperti non-performing loan yang menimpa fintech konvensional, para investor fintech syariah pun dibayang-bayangi lekat oleh kemungkinan rugi dari pinjaman yang tidak kembali.

Risiko menjadi kian tinggi karena pada bisnis fintech, tidak ada tatap muka antara kreditur dengan debitur. Meskipun sudah disepakati akad di awal, tidak ada jaminan pula sang peminjam berlaku jujur menyampaikan laporan keuangan usahanya.

Padahal dalam peminjaman syariah, akad mufakat untuk usaha mempertimbangkan hasil usaha. Jika untung, ya investor pun ketiban rezeki dengan pengembalian sesuai dengan yang disepakati. Tetapi kalau rugi, peminjam pun berhak tidak melakukan pembayaran terlebih dahulu.

Dikutip dari: Validnews.co